Kegunaan dan Bahaya Obat Plavix Bagi Tubuh

Kegunaan dan Bahaya Obat Plavix Bagi Tubuh

Plavix obat apa merupakan pertanyaan yang sering ditanyakan oleh para pasien. Plavix adalah obat antiplatelet dengan kandungan zat aktif clopidrogel yang berfungsi mencegah pembekuan darah. Obat ini biasanya diresepkan kepada pasien dengan gangguan kardiovaskular untuk mencegah serangan jantung atau stroke. 

Plavix termasuk obat keras yang hanya bisa dibeli dan digunakan sesuai resep dokter. Food and Drug Administration (FDA) bahkan memberinya label peringatan paling serius karena dapat menyebabkan efek samping berbahaya.

Cara kerja Plavix

Ketika Anda mengonsumsi Plavix, tubuh akan menggunakan enzim CYP2C19 yang diproduksi hati untuk memetabolisme obat. Setelah itu, clopidrogel yang terkandung dalam obat akan menghambat ikatan adenosisn difosfat pada reseptor P2Y12. 

Hasilnya, aktivasi glikoprotein IIb/IIIa yang dimediasi adenosin difosfat akan terhambat dan mencegah trombosit darah saling menempel satu sama lain, yang bisa meningkatkan risiko pembekuan darah dan penyumbatan arteri. 

Siapa yang boleh dan tidak boleh mengonsumsi Plavix?

Dokter akan meresepkan Plavix kepada orang-orang dengan kondisi berikut:

  • Memiliki sindrom koroner akut (ACS), termasuk angina tidak stabil dan serangan jantung.
  • Riwayat serangan jantung atau stroke sebelumnya. 
  • Memiliki penyakit arteri perifer (PAD), yang menyebabkan darah di luar jantung dan otak menyempit. 
  • Riwayat operasi jantung atau pembuluh darah, seperti pemasangan stent koroner. 

Namun sebelum memberikan Plavix, dokter akan melakukan pemeriksaan sederhana untuk memastikan apakah tubuh Anda mampu memetabolisme clopidrogel atau tidak. Jika tidak, dokter mungkin akan mengganti obat atau memberikan perawatan tambahan agar manfaar dari Plavix bisa diterima tubuh secara optimal. 

Sementara orang dengan kondisi di bawah ini tidak disarankan untuk menggunakan Plavix:

  • Hipersensitif atau alergi terhadap clopidogrel
  • Pasien gangguan pembekuan darah
  • Penderita gangguan pendarahan atau yang memiliki risiko pendarahan, seperti pasca operasi.
  • Pasien gastrointestinal, termasuk maag akut
  • Penderita tekanan bola mata (intraokular)
  • Pasien penderita gangguan hati dan ginjal
  • Ibu hamil dan/atau menyusui
  • Lansia

Bagaimana cara mengonsumsi Plavix dengan tepat?

Dosis penggunaan Plavis berbeda tergantung kondisi medis yang Anda alami.

  • Pembekuan darah (tromboemboli)
  1. Untuk pasien penderita serangan jantung (infark miokard), stroke iskemik, dan arteri perifer: 75 mg/hari.
  2. Pasien penderita atrial fibrilasi dengan risiko vaskular, tidak cocok menjalani pengobatan dengan obat antagonis vitamin K, dan memiliki risiko perdarahan rendah: 75 mg/hari dikonsumsi bersama aspirin.
  • Sindrom koroner akut
  1. Pasien penderita serangan jantung STEMI yang berusia di bawah 75 tahun: 300 mg dilanjutkan 75 mg/hari. Plavix dikonsumsi saat tanda awal gejala dan selama 4 minggu.
  2. Pasien penderita serangan jantung Non-STEMI yang berusia di bawah 75 tahun: 300 mg yang dilanjutkan dengan 75 mg/hari, dikonsumsi bersama dengan asam asetil salisilat dosis 75-325 mg/hari atau sesuai anjuran dokter.
  3. Pasien penderita serangan jantung STEMI yang berusia di atas 75 tahun: 75 mg/hari.

Plavix bisa dikonsumsi sebelum atau setelah makan, pada waktu yang sama setiap harinya. Jika Anda lupa minum obat, segeralah minum sebelum melewati waktu minum. Jangan konsumsi Plavix dengan dosis ekstra jika Anda sempat lupa meminumnya.   

Efek samping yang harus diwaspadai

Efek samping utama setelah menggunakan obat Plavix atau obat antiplatelet lainnya adalah Anda jadi lebih mudah berdarah karena kekentalan darah berkurang. Pendarahan seperti luka berdarah atau mimisan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk berhenti. Efek samping ringan lainnya yaitu diare, sakit perut, mulas, mual, dan muntah. 

Jika Anda mengalami pendarahan yang parah, seperti keluarnya darah dalam urin atau feses, muntah atau batuk darah, atau gejala lainnya maka segera temui dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Jangan hentikan penggunaan obat tanpa konsultasi dengan dokter karena bisa meningkatkan serangan jantung atau stroke.

Leave a Reply